February 03, 2007 | Author: frans
Dini hari ini saya dibangunkan oleh istri saya untuk melihat kondisi, ternyata hiks... hiks... jerih payah 2 hari kemarin menjadi sia-sia. Karena banjirnya makin menggila jika kemarin dulu sekitar 5 cm dan kemarin sekitar 10 cm, hari ini lebih dalam lagi sekitar 15 cm.


[Klik untuk memperbesar]
Rumahku banjir

Sekitar jam 10 pagi baru saya coba untuk meminjam pompa lagi ke rumah Iwan. Tapi menurut istrinya, Aling ternyata pompanya sudah dikembalikan ke pemiliknya. Wah kalau begitu pompa yang kemarin dipinjamkan Iwan itu ternyata pompa pinjaman. Setelah tahu pompanya dikembalikan, saya pulang dengan perasaan sedih, karena harus kuras lagi dengan ember :(.

Kebaikan seorang tetangga
Tidak lama saya sampai ke rumah, tiba-tiba dari depan rumah Iwan memanggil-manggil saya sambil mengetuk pintu. Ternyata dia membawakan pompa yang tadi saya ingin pinjam. Dia berkata bahwa ia pinjam lagi pompanya setelah ia tahu bahwa saya membutuhkannya.

Sejenak saya berpikir, bahwa ternyata masih ada orang di Jakarta ini yang perduli dengan sesama. Bayangkan, awalnya saya tidak kenal dengan Iwan. Koq bisa-bisanya ia menawarkan pompa yang jelas-jelas bukan miliknya, bahkan mau meminjamkannya untuk saya yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya.

Kalau boleh jujur, di antara kitapun belum tentu melakukan hal yang sama dengan Iwan. Sampai-sampai kita pernah mendengar istilah "Siape loe?". Suatu arogansi secara sadar maupun tidak sudah terlanjur kita pelihara sejak dulu.

Singkat cerita berkat pompa itu, air setinggi kurang lebih 15 cm itu sudah terkuras kurang dari 1 jam.

Client memaksa saya untuk datang
Sekitar jam 8 pagi saya menginform ke client dan team terkait bahwa saya tidak lagi bisa ke client. Rekan kerja saya, Deni juga ternyata terjebak macet dan menanyakan apakah saya bisa datang atau tidak ke client. Tapi karena saya melihat kondisi di lingkungan saya tidak memungkinkan maka saya sepertinya tidak mungkin bisa keluar dari kompleks tempat tinggal saya.

Sekitar jam 10an saya ditelp team birokrasi, menanyakan apakah tidak mungkin saya memaksakan diri untuk datang ke client karena Deni sudah sampai di sana. Tetapi PIC tidak mau datang kalau saya tidak datang. Padahal Deni sudah susah payah dari Depok ke client tapi jerih payahnya menjadi sia-sia karena dipaksa pulang lagi karena si client tidak mau datang. Konyol memang tapi inilah yang terjadi. Tapi saya mau bagaimana lagi. Walaupun gang tempat saya tinggal kering tapi 3 akses keluar dari kompleks tempat tinggal saya semuanya tertutup air, yang tingginya sekitar 5-40 cm. Seandainya ada penjemputan ya pastilah saya akan datang.

Jauh lebih baik
Melihat kondisi yang saya alami, ternyata masih jauh lebih baik ketimbang beberapa teman saya yang tinggal di Kelapa Gading, Cengkareng, Tanjung Priok dan Bekasi yang rumahnya sama sekali tidak dapat ditinggali. Mereka harus mengungsi ke rumah saudara bahkan ada yang terpaksa sewa hotel untuk mengungsi. Karena ketinggiannya yang saya dengar sekarang ada yang sudah sampai ke dada.

Doa dan harapkan saya adalah banjir ini cepat surut, supaya tidak ada penderitaan lagi untuk rekan-rekan yang kini sedang tertimpah musibah kebanjiran ini...... Amin

Category: General

Comments

  1. siek Ling 
    February 04, 2007 - 23:30:34

    Gila ya........ Banjirnya ampe begitu.... Ling bersyukur sih rumah ortu yg di pademangan ga kebanjiran... :P Eh, titip pesan aja kali ye.. Mau dijual jg soalnya ga ada yg nempatin :( Eh, selamat ya buat alui... Ternyata usaha loe berhasil juga ya :P


Leave comment

This item is closed, it's not possible to add new comments to it or to vote on it
« Prev itemNext item »